Di depan mereka, di antara semak-semak tinggi, sesosok makhluk besar dengan bentuk tubuh yang tidak sepenuhnya menyerupai hewan biasa terlihat bergerak perlahan. Tubuhnya bersisik tebal, menyerupai buaya, namun bentuk kaki dan kepalanya lebih menyerupai kadal besar. Panjang tubuhnya lebih dari dua meter, dan matanya yang berwarna kuning terang bersinar di bawah bayangan pepohonan.

Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah, seperti peringatan.

“Apa itu?” tanya salah satu prajurit wanita dengan suara bergetar.

Lala, yang berdiri di belakang, menatap makhluk itu dengan dahi berkerut. “Itu jelas bukan hewan biasa,” gumamnya. “Bentuk tubuhnya sangat terlihat seperti hasil radiasi dan bermutasi.”

“Radiasi? Mutasi?” Seraphina, salah satu prajurit wanita. Dia menoleh ke arah Lala dengan wajah bingung. “Kau pikir ini buatan manusia?”

“Aku tidak tahu,” jawab Lala, mencoba tetap tenang meskipun ada rasa penasaran di wajahnya. “Tapi kalau benar, bisa jadi ada hubungannya dengan eksperimen di pulau ini. Ayah mungkin tahu sesuatu.”

Kane mengangkat tangannya, memberi isyarat agar semua prajurit mengambil posisi siap tempur. “Apa pun itu, kita tidak mengambil risiko. Tembak dulu, pertanyakan kemudian.”

Garin dan Valen yang berada di barisan depan segera mengangkat senjata laser mereka, mengarahkan ke tubuh besar makhluk itu. Salah satu dari mereka menembak lebih dulu. Sinar laser biru menyambar, menghantam sisik keras makhluk tersebut, menghasilkan bunyi retakan kecil.

Namun, makhluk itu tidak tumbang. Sebaliknya, ia berbalik, menggeram keras, dan meluncur maju dengan kecepatan yang mengejutkan. Kakinya yang kuat mencakar tanah, menciptakan jejak dalam ditanah yang lembap.

“Serang terus!” teriak Kane, menembak dengan senjata lasernya.

"Menghindar, cari tempat aman!" teriak Kane memberi perintah. "Lyra, Freya, Lindungi Lala! Seraphina, Darius, lindungi kakeknya Lala!"

Tembakan demi tembakan menghantam tubuh makhluk itu, memantul dari sisik keras di bagian punggung dan ekornya. Beberapa laser akhirnya berhasil menembus kulit di antara sisiknya, mengeluarkan cairan kental berwarna hijau dari luka-lukanya. Makhluk itu meraung kesakitan, namun tetap menyerang dengan keganasan yang sama.

“Targetkan bagian yang lebih lunak!” seru Kane sambil menembak ke arah perut makhluk itu. “Jangan buang peluru di sisiknya!”

Setelah beberapa kali tembakan yang terarah, makhluk itu akhirnya tumbang ke tanah dengan suara dentuman keras. Napasnya terengah-engah sebelum akhirnya berhenti, tubuhnya tergeletak tak bergerak.

Kane melangkah maju dengan hati-hati, mengamati tubuh makhluk itu dari jarak dekat. “Jaga posisimu. Jangan ada yang mendekat terlalu cepat,” perintahnya kepada anak buahnya.

Ia menarik pisaunya, menusuk salah satu bagian tubuh makhluk itu yang tidak terlindungi sisik. Pisau itu dengan mudah menembus daging di bawah sisik keras, memotongnya seolah-olah hanya memotong kain.

“Menarik,” gumam Kane sambil memperhatikan luka yang ia buat. “Sisiknya keras, hampir seperti pelat baja. Tapi bagian di baliknya... sangat lemah.”

Salah satu prajurit, yang bertugas membawa peralatan analisis, melangkah maju. “Komandan, kita bisa mengambil sampel untuk diperiksa nanti.”

“Ambil sisik dan jaringan lunaknya,” perintah Kane. “Aku ingin tahu apakah ini murni hasil evolusi alam, atau ada yang bermain-main dengan genetika.”

Prajurit itu mengangguk, mengambil alat potong kecil dari perlengkapan mereka dan mulai memotong beberapa bagian dari tubuh makhluk itu. Sementara itu, Kane mengamati sekeliling, memastikan tidak ada ancaman lain.

Ketika mayat makhluk itu sudah selesai diperiksa, kelompok itu melanjutkan perjalanan, namun pembicaraan tentang mutasi tersebut menjadi fokus utama.

“Komandan,” salah satu prajurit membuka suara. “Kalau ini benar hasil mutasi, siapa yang melakukannya? Dan untuk apa?”

Kane menatap ke depan dengan ekspresi dingin. “Kita tahu Milo melarikan diri ke tempat ini. Dia adalah satu-satunya orang yang bisa melakukan sesuatu seperti ini. Bisa jadi ini semua bagian dari eksperimennya.”

Lala, yang mendengarkan pembicaraan itu, tiba-tiba menyela. “Ayahku tidak pernah membuat makhluk seperti itu. Dia tidak akan setuju melakukan eksperimen yang tidak etis.”

“Lalu kenapa makhluk itu ada di sini?” tanya Kane tajam. “Ayahmu berada di pulau ini. Apa kau pikir ini semua kebetulan?”

Lala menggertakkan giginya, tidak tahu harus menjawab apa. “Mungkin ada sesuatu di pulau ini yang sudah ada sebelum ayahku tiba. Sesuatu yang lebih besar dari eksperimen yang kalian maksud.”

“Kita akan segera tahu,” kata Kane dingin. “Apa pun itu, pulau ini menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat di permukaan.”

Kelompok itu melanjutkan perjalanan dengan lebih berhati-hati. Mereka menyadari bahwa pulau ini tidak hanya dipenuhi oleh binatang besar, tapi juga makhluk-makhluk yang tidak pernah mereka temui sebelumnya. Kane, dengan naluri militernya, tetap waspada, sementara Lala dan kakeknya diam-diam mengamati, mencoba memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Setelah berjalan selama beberapa hari, mereka menemukan tanaman menjalar yang sudah hancur terpotong. "Sepertinya rombongan di depan kita sudah dekat. Lihat bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Sepertinya ada anggota mereka yang terluka di tempat ini." Kata Kael sambil berjongkok memeriksa bekas darah kehitaman.

"Komandan, tanaman ini sangat beracun." Kata salah satu prajurit saat memeriksa kumpulan tanaman yang sudah rusak terinjak oleh sesuatu binatang berukuran besar.

"Pulau ini belum menunjukkan seluruh giginya." Kata prajurit lainnya.

Kael memeriksa keadaan di sekitar. Dari kejauhan, sesuatu yang besar terlihat bergerak di antara pepohonan. "Komandan! Di depan kita ada yang mencurigakan," kata Kael memberikan informasi kepada Kane.

Kane memberikan aba-aba kepada anak buahnya, membuat mereka semua berhenti sejenak dan bersiaga, "Bersiaplah!" Katanya dengan nada rendah namun penuh kewaspadaan .

Kane mengeluarkan sebuah alat dari salah satu sakunya, alat menyerupai tongkat kecil dan dipasang pada perangkat yang ada di pergelangan tangannya. Setelah mengarahkannya ke sebuah pohon yang tinggi di dekatnya, Kane menekan sebuah tombol. Dari tongkat kecil itu terlihat sebuah benda keluar dengan cepat menuju ke arah cabang pohon dan menancap dengan kuat. Terlihat seuntai kabel tipis kuat terhubung di alat tersebut yang memiliki mekanisme untuk menarik mereka ke posisi yang diinginkan.

Dengan alat tersebut, dalam sekejap, Kane sudah berada di atas sebuah cabang pohon cabang besar, sambil memegang erat alat pemantau digital di tangannya. Dari ketinggian ini, ia dapat melihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.

Dari atas pohon, Kane mengaktifkan kemampuan perangkatnya untuk melihat jarak jauh dari atas pepohonan. Kane melihat rombongan penduduk lokal yang bergerak di antara pepohonan di kejauhan. Mereka membawa senjata primitif seperti tombak, busur dan kapak, namun jumlah mereka diperkirakan sekitar dua ratus orang, membuat Kane berhati-hati. Yang lebih menarik perhatiannya adalah lima makhluk mutasi yang bergerak bersama rombongan itu.

Makhluk-makhluk itu memiliki bentuk yang tidak lazim. Dua diantaranya menyerupai kucing besar dengan sisik di beberapa bagian tubuhnya, sementara yang lain lebih seperti campuran reptil dan burung, dengan sayap kecil namun tidak cukup besar untuk terbang. Namun yang paling mencolok adalah makhluk terbesar di depan rombongan. Tubuhnya setinggi pohon kecil, dengan cakar tajam dan kepala besar yang menyerupai kepala kadal. Tubuhnya tertutup sisik tebal, dan di atasnya duduk seorang pria bertubuh kekar dengan rambut panjang yang diikat ke belakang.

Kane menyipitkan matanya, mencoba menganalisis sosok itu lebih jelas. “Itu pasti pemimpin mereka,” gumamnya pelan. Lalu dia berbicara melalui alat komunikasi di helmnya kepada tim di bawah. “Waspadalah! Di depan kita terlihat rombongan penduduk lokal. Aku melihat mereka memiliki makhluk-makhluk mutasi. Lima total, termasuk satu yang jauh lebih besar. Pemimpin mereka duduk di atas yang terbesar.”

Salah satu prajurit di bawahnya, seorang wanita bernama Lyra, menjawab dengan nada cemas. “Makhluk-makhluk mutasi? Komandan, apa ini tidak terlalu berbahaya?”

“Kita tidak mundur,” balas Kane dengan tegas. “Tapi kita juga tidak bisa gegabah. Aku ingin kalian tetap di posisi, jangan bergerak sampai aku memberi aba-aba.”

Kane kembali memeriksa situasi yang ada di depan mereka. Kane berusaha mempelajari rombongan yang ada di depannya. Dia tahu, sebagai pemimpin tim, dia tidak boleh melakukan kesalahan yang dapat membahayakan anggota timnya.

